
Setidaknya ada tiga joke tentang Nadine Chandrawinata yang membuat saya terbahak-bahak. Saya tidak menyalahkan orang membuat joke itu, karena Nadine juga tidak membuat counter-statement.
Saya hanya cerita satu saja, yang terjadi dalam acara Grand Final Miss Universe 2006 di AS.
Juri: “Ok Miss Venezuela, pertanyaan Geografi ya. Coba sebutkan satu saja, negara di dunia yang namanya berawal dengan huruf U!”
Miss Venezuela: “Uruguay”
Juri: “Yes, very good!”
Berikutnya giliran Miss Puerto Rico.
Juri: “Miss Puerto Rico, pertanyaannya sama. Sebutkan satu negara yang diawali dengan huruf U!”
Miss Puerto Rico: “Uzbekistan”.
Juri: “Excellent!”
Nah sekarang giliran Nadine.
Juri: “Berikutnya Anda, Miss Indonesia, pertanyaannya masih sama. Sebutkan satu saja negara yang diawali huruf U!”
Nadine: “Oh, saya bisa jawab dua boleh?”
Juri: “Boleh… sangat bagus.. silakan, Nadine”
Nadine: “Ok, pertama: Ustria. Kedua: Ustralia!”
Jurinya bengong dong!!
___________________
Moral dari cerita ini adalah, memang ada beberapa diferensiasi dalam dunia keartisan terutama di kalangan perempuan. Kalau di bulé sana yang sering jadi korban joke adalah para blonde, maka di Indonesia Nadine-lah yang lagi tren jadi korban. Perempuan blonde (pirang) cantik dianggap identik dengan kepala yang kosong.
Teman saya cerita bahwa memang orang mengenal beberapa kelompok artis perempuan berdasarkan isi kepalanya.
- Contohnya, DR dikenal sebagai artis cantik yang tidak pintar, tapi dia bisa menutupinya dengan kalimat-kalimat yang terkesan intelek yang –mungkin karena sering latihan- terujar dari bibirnya.
- Sebaliknya, SL dikenal sebagai artis cantik yang berprinsip “anjing menggonggong kafilah berlalu” saat dia merebut suami orang, tapi semua orang setuju untuk bilang dia ini pintar meskipun jarang sekali terdengar berkomentar di depan kamera infotainmen.
- Lalu ada juga beberapa artis artis yang memang ketahuan pintarnya dari susunan kalimat & tutur kata yang sistematis dan bermutu.
- Yang parah ya Nadine tadi, sudah jarang bicara ternyata juga –maaf- tidak ada isi kepalanya.
Pengelompokan menjadi empat kategori ini adalah diferensiasi. Semua artis memilih positioning masing-masing untuk dikenal publik. Ini bukan masalah buruk atau baik, karena semuanya punya target, massa & penggemar masing-masing.
Ternyata hal serupa juga tampak pada artis-artis Paman Sam.
Donald Trump pernah berkomentar tentang Britney Spears, “Dia itu perempuan yang dulu sukses. Tapi saya nggak tahu kenapa dia sekarang begitu, sayang sekali kan kalau dia sampai begitu cuma karena laki-laki.”
Britney Spears dikabarkan mengalami depresi berat setelah pisah dari suaminya. Britney pernah melejit tenar sebagai penyanyi perempuan yang sukses luar biasa dalam usia belia. Gemerlap kesuksesannya perlahan meredup setelah menjalin hubungan dengan Justin Timberlake yang meskipun masuk dalam kategori pria terseksi di dunia, dia juga ‘player’. Tampaknya patah hati dari Justin menyebabkan dia depresi luar biasa hingga menyebabkan rumah tangga, karir, dan hidupnya berantakan hanya dalam tempo kurang dari 5 tahun sejak dia mulai meroket sukses.
Beberapa waktu lalu Mariah Carey juga mengalami personality disorder setelah cerai dari suaminya Tony Montoya. Memang karirnya tidak terjun bebas secepat Britney, tapi filmnya Glitter sangat tidak sukses dan album-albumnya tidak selaris dahulu. (Hey, you’re not Madonna!) Carey dikenal sering bermasalah dengan tindakan-tindakan kasarnya terhadap staf hotel di manapun dia menginap.
Akan halnya Madonna, ceritanya jauh berbeda. Setelah meniti jalan berat dari artis jalanan dengan bayaran $1 untuk satu kali action (foto) di jaman 70-an, generasi muda sekarang tetap mengenal dia sebagai legenda hidup. Waktu saya masih SMP dulu kakak saya cerita bahwa IQ Madonna 160. Mungkin tidak persis segitu, tapi dia dikenal sebagai orang yang sangat cerdas. Perceraian dengan Sean Penn tidak menghancurleburkan hidupnya. Bukannya tidak cinta, tapi sikap hidupnya membuat dia bahkan lebih kuat melanjutkan hidup.
Artis perempuan lain yang dikenal cerdas adalah Angelina Jolie. Kualitas inilah yang kelihatan sangat sulit ditandingi oleh Jennifer Aniston waktu berusaha setengah mati merebut Brad Pitt dari Jolie.
Sulit sekali bagi orang buat tidak mengasosiasikan Jen Aniston dengan serial TV Friends yang sukses mengudara selama 10 tahun. Begitu melekatnya bayang-bayang karakter Rachel hingga Jen tidak pernah tampak sukses dalam solo karir. Untung saja dia sempat menabung 50 milyar perak dari setiap episode Friends sehingga dia sudah mengantongi 1.2 triliun sekarang, jumlah sama yang juga dikantongi oleh anggota Friends yang lain. Kalau tidak, mungkin dia sudah jatuh melarat dan depresi berat sekarang ini. Fenomena tidak bisa lepas dari Friends juga sayangnya dialami mantan personil Friends lainnya. Bahkan karakter maupun gaya akting di film-film solo mereka tidak berbeda jauh dari yang mereka tampilkan dalam Friends. Sebut saja karakter Jen yang lemah-lembut, manja & plin-plan, David Scwhimmer yang selalu dapat peran geek, dan Lisa Kudrow yang tetap cablak dalam Analyze This & That. Mereka tidak bisa lepas dari bayang-bayang peran mereka dalam Friends.
Coba lihat Spice Girls yang fenomenal. Meskipun sudah bubar, para mantan personil Spice tetap eksis dengan karakter dan gaya masing-masing. Mereka tidak dibayang-bayangi kesuksesan Spice. Yang tetap rutin muncul di media mungkin Victoria yang sekarang menggandeng salah satu pemain sepak bola paling kaya sejagat. Tapi apakah Vic akan berada di bawah bayang-bayang David Beckham? Dia punya sesuatu yang membuatnya berbeda meskipun tanpa kata ‘Beckham’ di belakang namanya.
Bandingkan dengan Jennifer Lopez. Meskipun aktingnya di Maid in Manhattan biasa-biasa saja, kelihatan bahwa J-Lo bukan seorang aktris dengan karakter, yang bisa dengan ajaib berubah menjadi tokoh antagonis, sebagaimana didemonstrasikan dengan sukses oleh Jolie dalam Girl, Interrupted. Mungkin J-Lo menggunakan aji mumpung, selagi tenar sebagai penyanyi, ikut-ikut nyobain layar lebar. Fenomena umum di tanah air saya. Keuntungan dia adalah, dia tetap dikenal sebagai artis cantik dari ras Latin, yang tidak bakalan bisa dibandingkan secara apple-to-apple dengan Madonna ataupun Jolie. Nah, mulai terasa diferensiasi di antara perempuan-perempuan ini?
Sekarang lihat Paris Hilton. Hampir semua orang akan bilang dia hanya perempuan blond bodoh yang kebetulan anaknya Hilton, yang taunya hanya party & laki-laki muda ganteng. Tapi dia dengan sadar mengeksploitasi “atribut” tersebut sehingga menjadi daya diferensiasi yang sulit ditandingi siapapun. Paris kini juga bikin album solo & juga film. Mungkin yang mencela dia cuma orang-orang yang sewot karena belum pernah diundang ke salah satu pesta di kapal pesiarnya.
Sampai sini saya lihat ada benang merahnya. Kebanyakan artis yang mengalami krisis dan depresi dalam hidup dan karirnya adalah mereka yang mengalami shock akibat “quick rise, quick fall”, bukan mereka yang memang meniti karir dari bawah, atau juga mereka yang memang sudah dari dulunya sudah biasa kaya sehingga naik turun dalam karir tidak terlalu berpengaruh dalam kehidupan pribadi.
Tapi menariknya, fenomena ini sangat jelas tereksploitasi pada artis-artis perempuan, dan tidak pada pria. Kenapa? Ada beberapa kemungkinan.
- Pertama, laki-laki memang tidak pernah “give a shit” tentang jatuh-bangun kehidupan asmara, atau mereka punya ego yang terlalu tinggi dalam kehidupan pribadinya untuk ditampilkan kepada publik.
- Kedua, perempuan memang selalu jadi sorotan dan topik yang menarik untuk jadi bahan gosip di antara perempuan lain dan juga laki-laki. Begitu besar sorotan kepada perempuan sehingga laki-laki kurang terekspos.
- Ketiga, perempuan memang suka melakukan sensasi supaya menjadi bahan eksploitasi media dalam rangka meningkatkan ‘brand awareness’ atau mem-PR-kan diri (PR=public relations) dan akhirnya meningkatkan daya saing mereka. Tapi seringkali pilihan ini merupakan pilihan hidup-mati (lihat kasus Britney, lalu bandingkan dengan Madonna).
- Keempat, sebetulnya hal serupa juga terjadi pada laki-laki, hanya untuk menjadikannya bahan pemberitaan akan kurang punya nilai jual.. well mungkin ada audiensnya, tapi tidak sebanyak kalau topiknya perempuan.
- Kelima, hampir semua perempuan terkaya di dunia datang dari dunia hiburan. Sebaliknya, para laki-laki terkaya berasal dari dunia bisnis atau olahragawan. Apakah artinya pemilihan karir untuk sukses dalam kehidupan material berkaitan dengan gender?
____________________
Disclaimer: Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan pihak-pihak atau jenis kelamin tertentu, melainkan hanya bahan pemikiran buat teman-teman di Marketing, PR, human capital maupun strategi korporasi. Nama-nama dituliskan hanya sebagai ilustrasi agar pembaca mendapatkan konteks isi yang diharapkan penulis. Thanks to Cumut atas inspirasinya.